Archive

Archive for the ‘Go Green’ Category

Buka Semangat baru

December 14, 2009 Comments off
Categories: Go Green

COCA-COLA AMATIL GOES GREEN

November 9, 2009 Comments off

COCA-COLA AMATIL GOES GREEN
The Shout (www.theshout.com.au)
By Grant Shepherd
6 November 2009

Coca-Cola Amatil (CCA) reinforced its position as an environmentally-friendly company yesterday when it opened its new distribution centre at Eastern Creek.

With nearly 700 solar panels on its roof, the building will run on 15 to 20 per cent renewable energy.

To help kick off the proceedings and officially cut the ribbon was CCA’s managing director, Warwick White, who was very proud to open such a remarkable facility.

“Just take a look at the development we have here, it’s hard to believe just 18 months ago this business hub was empty,” he said.

“This centre is truly something we can be proud of, so many people are responsible for this success and everyone has put in an outstanding effort.”

The $1.2 million, 110 kilowatt photovoltaic system will reportedly generate 148 megawatt hours of clean renewable energy every year and reduce greenhouse gas emissions by 148 tonnes annually.

White emphasised that the solar panels are not the only environmentally-friendly aspect of the new centre.

“We have turned six facilities into two, therefore this has dramatically cut transport costs and reduced our truck movements by 26,000 trips a year, there are also fewer forklifts, which will save 225,000 litres of fuel and 130 tonnes of LPG,” he said.

“We also have many water saving initiatives in place like solar hot water, energy efficient lighting, insulation, natural ventilation and low chemical adhesives and sealants were used in the building process.”

Also on-hand at the opening was Roger Price, Chief Government Whip and Member for Chifley, who was very impressed with the company’s commitment to the environment.

“Climate change is a major issue facing the world, and it is pleasing to see a major blue chip company like CCA is at the forefront of this issue,” he said.

“This impressive facility is proof of how businesses can tackle climate change.”

Categories: Go Green

Mewujudkan Green Data Center

November 9, 2009 Comments off

Oleh Dimitri Mahayana
Chairperson Lembaga Riset Telematika Sharing Vision

http://www.sharingvision.biz/2009/01/05/mewujudkan-green-data-center/

Belakangan, isu lingkungan hidup terutama global warming menjadi tema sentral yang kerap dibicarakan di semua ranah publik. Eskalasinya, bahkan telah menjadi fokus aktivitas banyak pelaku bisnis (green business) termasuk pada bidang bisnis teknologi informasi (TI). Ada berbagai sorotan, gagasan, dan usulan TI yang berbasis kepada upaya penyelamatan lingkungan hidup demi kemaslahatan umat pada masa mendatang.

Salah satu yang jadi perhatian adalah data center. Selama ini, keberadaan pusat data ini selalu mencuatkan isu utama: Biaya energi sangat besar untuk proses komputasi di dalamnya yang kontinu sepanjang pekan alias 24/7.

Selain itu, data center juga membutuhkan desentralisasi, replikasi, dan redundansi data ke berbagai tempat secara masif. Akibatnya, bisa ditebak, muncul problem energi yang akhirnya bisa menimbulkan berbagai dampak lingkungan.

Mari menengok data dua lembaga riset global, IDC dan Gartner. IDC menilai bahwa untuk setiap US$1 investasi peranti keras di data center, akan muncul tambahan biaya US$0,5 pada power dan sistem pendinginan.

Angka tambahan ini naik dua kali lipat dari jumlah tahun sebelumnya. Gartner bahkan memprediksi separuh dari data center di dunia pada 2008 akan kekurangan kapasitas power dan cooling akibat krisis energi.

Yang lebih ironis, sebagaimana dirilis Aparture Research Institute 2007, 43% data center yang disurveinya dari kalangan perbankan, kesehatan, telekomunikasi, dan ritel, kehabisan tenaga listrik di setiap kondisi puncak.

Dengan demikian, dibutuhkan model baru data center yang ramah lingkungan atau green data center. Ada tahapan besar yang harus dilakukan dalam mewujudkan model ini.

Pertama, memahami pola konsumsi energi sebuah data center. Kedua, mendesain strategi mata rantai proses TI di dalamnya. Ketiga, memunculkan proses optimalisasi dan pengelolaan pasokan energi. Dan keempat, memperlebar virtualisasi aset guna menggenjot tingkat utilisasi.

10 Cara

Secara konkret, rekomendasi tahapan ini bisa dilakukan dalam sepuluh cara, yakni: Mengaudit efisiensi data center; Menggunakan UPS yang memiliki efisiensi hingga 97%; Virtualisasi server dan storage data center.

Selanjutnya, lalukan konsolidasi data server dan storage; Penggunaan fitur manajemen energi pada CPU; Penggunaan power supply dan voltage regulator tersertifikasi; Adopsi distribusi energi terefisien; dan Adopsi sistem cooling terbaik.

Dua langkah terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah menerapkan prioritas tindakan dalam mereduksi energi sekaligus menonaktifkan peralatan TI yang sudah dalam kondisi idle di sebuah data center.

Dari berbagai aksi nyata itu, penulis hendak menyoroti metode virtualisasi serta konsolidasi server dan storage. Virtualisasi yang bisa mengalihkan data dalam bentuk maya jelas akan menghemat ruangan yang dibutuhkan.

Hal itu akan terwujud pula proses mobilitas data yang menghemat kebutuhan infrastruktur pendukung. Berdasarkan survei NASCIO’S 2007 of State Data Center, virtualisasi akan ciptakan utilisasi sekaligus efisiensi energi sebesar 70%.

Demikian pula konsolidasi, di mana proses penyelarasan data di storage dan server data center jelas akan menyingkirkan data yang tidak diperlukan sehingga otomatis akan mengurangi peranti TI yang diperlukan.

Konsolidasi juga bermakna penerapan sistem cadangan. Artinya, perusahaan idealnya menyiapkan tiga data center guna menghadapi karakter alam Indonesia yang rawan aneka bencana mulai dari gempa, banjir, hingga serangan teroris.

Implementasi ini tengah jadi tren global, di mana keterhubungan data center pertama dan kedua menggunakan akses synchronously connected sementara kedua dan ketiga dengan asynchronously connected.

Ada pula pihak-pihak yang menerapkannya dengan cara collocation server alias menyimpan server pada pihak lain. Cara ini dinilai bisa menghemat biaya sekaligus space ruangan tanpa mengalihkan fokus bisnis.

Yang jelas, virtualisasi-konsolidasi ini dibutuhkan jika mengingat karakter pengguna data center di Indonesia. Survei Sharing Vision pada 2007 lalu kepada 54 perusahaan menunjukkan kecenderungan pengguna menjejalkan semua data.

Dalam jawaban terbukanya, responden mengaku memasukkan data rekaman transaksi sebanyak 87%, data pelanggan 69%, data karyawan 63%, laporan keuangan 63%, data inventory 54%, data pihak ketiga 42%, dan seterusnya.

Sekalipun aneka data masuk, mayoritas responden membutuhkan sistem remote mirroring atau reaplikasi data secara real time dibandingkan dengan standby database (reaplikasi data periodik), apalagi offsite storage (reaplikasi tahunan).

Memang, klien pengguna Indonesia umumnya membutuhkan proses sangat cepat dengan kemampuan penyimpanan data maha besar, yang identik serapan energi skala tinggi, dari sebuah data center.

Karena itu, kesadaran membangun green data center merupakan kebutuhan yang tak bisa dielakkan lagi. Jika semua pihak sudah sejak awal menerapkannya, pasokan energi byar-pet di negeri ini tidak akan pernah benar-benar mengancam. (Bisnis Indonesia/ 11/11/2008)

Categories: Go Green
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.